Berawal dari keinginan untuk melestarikan, mengamankan, dan mengoptimalkan pemanfaatan aset di jalur Banjar-Pangandaran-Cijulang dengan mengajak peranserta Pemerintah Daerah dan masyarakat setempat dan untuk mendorong reaktivasi jalur KA nonaktif ini mengingat besarnya potensi ekonomi terutama pariwisata di wilayah Kabupaten Pangandaran, maka PT Kereta Api Indonesia/KAI (Persero) bekerjasama dengan Kereta Anak Bangsa dan PT Reska Multi Usaha menyelenggarakan kegiatan Napak Tilas Jalur KA Nonaktif Banjar-Pangandaran-Cijulang pada tanggal 20-22 Maret 2018. Selain dari insan KAI, kegiatan ini diikuti oleh para jurnalis media massa, pemerhati KA, komunitas pencinta KA dan komunitas warga Pangandaran serta perwakilan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.
Kegiatan Napak Tilas ini yang dipandu sepenuhnya oleh Kereta Anak Bangsa diisi dengan kunjungan ke aset peninggalan bersejarah yang masih bisa dijumpai seperti bekas Stasiun Banjarsari, Kalipucang, Pangandaran, dan Cijulang serta bekas Terowongan Hendrik, Juliana, dan Wilhelmina, yang disebut terakhir ini merupakan terowongan terpanjang di Indonesia (1.116 m). Tak ketinggalan pula peserta napak tilas melihat dari dekat Jembatan bentang panjang Cipamotan/Cikacepit (310 m) dan mengabadikan Jembatan Cipanerekan beton dan baja yang terletak di tepi Samudera Hindia. Saat kegiatan Napak Tilas ini juga diadakan kegiatan Forum Diskusi dan Silaturahmi dengan Pemerintah Kabupatan Pangandaran dan Kota Banjar serta komunitas dan tokoh masyarakat setempat, serta perwakilan Balai Teknik Perkeretaapian Jawa Barat Kementerian Perhubungan, pakar transportasi dan komunitas pencinta KA.

Aditya Dwi Laksana dari Kereta Anak Bangsa sedang menjelaskan poster berisikan informasi mengenai jalur dan aset peninggalan

Intrias Herlistiarto dari Kereta Anak Bangsa sedang mempresentasikan jalur Banjar-Pangandaran-Cijulang di forum diskusi

Foto bersama peserta napak tilas di mulut terowongan Hendrik
Foto bersama peserta napak tilas di depan Stasiun Cijulang
Namun demikian, banyak anak-anak yang belum bisa merasakan berinteraksi dengan dunia kereta api dari dekat serta mendapat kesempatan untuk menikmati perjalanan menggunakan kereta api, yang salah satunya karena alasan ekonomi. Bagi anak-anak yang kurang beruntung ini, kesempatan naik KA mungkin sesuatu yang masih dalam impian. Untuk dapat menaikinya, tentu memerlukan dana yang mungkin belum tentu menjadi prioritas dan dapat segera disisihkan.
Kereta Anak Bangsa (KAB) sebagai wadah anak bangsa yang berupaya memberikan sumbangsihnya bagi kelestarian dan kemajuan KA di Indonesia, mencoba untuk berbagi kebahagiaan dengan anak-anak dhuafa agar mereka bisa menikmati asyiknya berkeretaapi dan merasakan suasana stasiun yang nyaman dan menyenangkan, dan sekaligus memberikan wawasan pengetahuan tentang kereta api kepada mereka.
Untuk itu, KAB didukung oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta dan PT Kereta Commuter Indonesia (Persero) mengadakan acara bertajuk “Ceria Bersama Kereta Api” yang diadakan tanggal 17 Desember 2018 di Stasiun Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Acara ini diikuti oleh 61 orang anak-anak yatim/fakir miskin dari Yayasan Sayap Ibu, Kebayoran dan Yayasan Fajar Islam, Kemayoran.
Kegiatan ini dimulai berkumpul di Stasiun Jakarta Kota dan mencoba langsung aktifitas tap-in tiket Commuter Line. Kemudian edukasi mengenai dunia kereta api oleh selama perjalanan di KRL Commuter Line lintas Stasiun Jakarta Kota-Stasiun Tanjung Priuk oleh Gurnito dari Kereta Anak Bangsa. Berakhir di Stasiun Tanjung Priuk anak-anak kembali melakukan kegiatan tap-out secara mandiri.

Acara dilanjutkan dengan Lomba Mewarnai dan Lomba Menggambar. Untuk Lomba Menggambar, anak-anak dibebaskan untuk mencari lokasi terbaiknya sendiri. Materi lomba kemudian dinilai oleh Dewan Juri yang terdiri dari Ibu Jeje (KCJ), Bapak Trisilo (Kereta Anak Bangsa). Sementara juri menilai, diputarkan film KRL karya Sendy Prasetya dan disertai games interaktif.



Acara diakhiri dengan berdoa dan foto bersama.
]]>